Tuesday, July 11, 2006

Access User in #Banten

deayangimut 500 [@]
bim 499 [@]
Gajahmada 499 [@]
abcde12345 499 [@]
ajegille 499 [@]
nurmans 499 [@]
BelumJadi 498 [@]
gansi 498 [@]
kawats 498 [@]
WoLVeZ 498 [@]
mazing 498 [@]
ditolak 498
bosanidup 498 [@]
gunsboy 497 [@]
johnboy 497 [@]
HumanError 495 [@]
Nobita 494 [@]
MELAYU 489 [@]
matrik 489 [@]
ONEZ 480
P3M4LU 480 [@]
Matriks 477
ronie309 475
XS4ALL20010 470 [@]
Radzyx 470
mild 467 [@]
vinni 456
netware 456
sexykaycee 456 [@]
peergynt 455
tjaHayoe 455
hast 451
Betawi 450 [@]
StorM 450
panci 450
LoveMama 450
RaTuMu 450 [@]
Virussha 450 [@]
pakdhe 450
crackhead 450
TOLE 450 [@]
pamela 450
Ram4 450
typh0n 450
TJAHYONO 450 [@]
cucoocihuiy 450
AirMade 450 [@]
AlexRau 450 [@]
majapahit 450
MyWay 450 [@]
GReYcLanZz 450 [@]
BaPaKDuKuN 450
Kunang 450 [@]
justd0it 450
Jambul 450
noRecruit 449 [@]
Adjay 449 [@]
MyLonely 448 [@]
pamiarso 447
ASEAN 444 [@]
KOCAK 434 [@]
graber 432 [@]
jurigjarian 414
hypocritical 414 [@]
gundu 414 [@]
BANDARA13 404
TOLEeDaN 401
cisa 400
Vicko 400 [@]
Bandung 400
JUWITAKU 400 [@]
MadKiwi 400
Peace4u 400 [@]
Matshusita 400
tolongindong 400
japanese 400 [@]
tbtea 400 [@]
lAmpUpAdAm 400 [@]
coffemocca 400
ku2LEPAK 400
strom 400
parangtritis 400 [@]
rebe11i0uz 400
napi 400 [@]
NanthaJorok 400 [@]
xdaii02 400 [@]
KeNjErAN 400 [@]
sandalejepit 400 [@]
HakeemAje 400 [@]
yuven 400
Rizz 400
POCONGAN 400
embun 400 [@]
retrieved 399
sangprabv 399
Desperad0 399
dapikasep 350
Brahmana 333 [@]
smileup 300 [@]
REDDEVILSON 300 [@]
MGuN 212
ndrew 200
feels 100
JAMBI 100 [@]
layan 1

Access User on #Khatulistiwa

Users with access to this channel
User Access
ajegille 500
ONEZ 499
Gajahmada 499
matrik 499
sweetamanda 499
pujistone 499
deayangimut 499
Rebecca 499
orchide 499
puguh 498
Sp0rTyGaL 498
OLDY 498
ZuhriansyaH 498
nakal 498
mlungker 498
DiNaMiK1303 498
Peace4u 490
japanese 490
Adjay 490
bosanidup 490
Brahmana 490
BelumJadi 490
tjaHayoe 490
noRecruit 490
Nobita 490
hast 490
MyLonely 490
ASEAN 490
KOCAK 490
XS4ALL20010 490
aLie 490
YoPi 490
botol13 490
Betawi 490
BANDARA13 490
BAJUBARU13 490
Robie 490
PESAWAT13 490
KUTANGKERING 490
kakitangan13 490
BLAZE848 490
uratbesar13 490
Bunda 490
Radzyx 490
mild 490
tootyee 490
dimensi 490
ucog 490
johnboy 490
ronie309 490
OneDraculla 490
ditolak 490
MELAYU 490
XploDSysTeM 490
JUWITAKU 490
dikencani 490
HaZarDOus 490
SlaveZero 490

Friday, July 07, 2006

Liburan Derawan Island June 2006


Waktu Liburan di Derawan Island, Beutiful Island
21-23 June 2006, Berau Kaltim Indonesia

Left to Right (Dea,ajegille,Dede)

Ntar Yang Lain ikutan kesini ya asik banget nyelam ... yah pasir putih diujung gak masuk

ajegille

Friday, May 19, 2006

My Baby 4 bulan


My Baby Lagi

Es Puter

Akhir-akhir ini sebagai pemimpin, Tono sangat sibuk. Penjualan menurun. Kalau sudah begini, maka semua disalahkan. Bagian produksi bersalah karena over production. Bagian penjualan bersalah karena kurang kerja keras. Tentu saja bagian penjualan merasa sudah bekerja keras. Berarti masih kurang 'smart' katanya, karena yang penting 'Bukan work hard, tapi work smart'!. Bagian promosi bersalah karena dinilai kurang kreatif. Iklan yang dibuat kurang kuat. Kurang nendang. Bagian distribusi bersalah karena kurang luas distribusinya.
Bagian merchandising kurang bagus menata produk. Bagian marketing kurang kreatif dengan strateginya. Pokoknya semua salah. Sampai- sampai office boy juga bersalah karena kurang cepat mengambilkan minum bila ada tamu. Merusak citra perusahaan. Pokoknya semua salah.

Rapat dengan seluruh divisi yang dilangsungkan sejak pagi tadi berjalan dengan lamban. Semua orang sepertinya kehilangan ide. Tak ada seorangpun yang bisa mengusulkan ide brilian untuk keluar dari masalah ini. Semua orang tegang. Semua menunduk. Ada yang memain- mainkan pensil, ada yang sepertinya bermasalah dengan kursinya, entah kurang tinggi atau kurang rendah. Ada yang menggaruk-garuk punggungnya terus-menerus. Ada yang berulang-ulang menyusun dokumen yang dibawanya, yang di bagian atas dipindahkan kebawah, lalu yang di bagian bawah pindah ke tengah, dan seterusnya. Ada pula yang berpura- pura tidak terjadi apa-apa. Ada juga yang berusaha tersenyum simpul meskipun senyumnya hambar. Ada yang mulai bicara dengan mengucapkan terima kasih ketika Office boy masuk membawakan minuman. Setelah itu semua sibuk dengan tumpukan kertas di depan masing-masing orang. Tono sangat kesal. Hampir-hampir meledak kepala Tono memikirkan semua orang.

Dia sendiri tidak tahu mengapa dua bulan ini tiba-tiba penjualan menurun. Apakah karena ada pesaing lain? Apakah karena iklan kurang menarik lagi? Apakah karena harganya terlalu mahal? Apakah karena distribusinya terhambat? Apakah karena pelanggan pindah ke produk lain? Rasanya sangat pusing memikirkan semua ini sendirian.

Atasi masalah

Memang Tono sering diserang sakit kepala karena terlalu berat berpikir. Sebenarnya Tono ingin semua orang bisa bekerja sama untuk mengatasi masalah perusahaan. Jangan hanya dia sendiri yang mencari jalan keluar. Bukankah semua orang memiliki kelebihan di bidang masing-masing? Bagian penjualan paling tahu mengenai kejadian di lapangan. Mereka paling tahu mengenai gerak-gerik pesaing dan perubahan tingkah laku pelanggan. Bagian produksi yang paling tahu tentang bagaimana mengatur produksi agar tidak memproduksi terlalu banyak atau terlalu sedikit. Bagian promosi yang paling tahu mengenai kegiatan promosi produk pesaing, mengenai trend periklanan sekarang, mengenai efektivitas iklan, mana yang harus dipilih dan sebagainya.

Seperti biasa, Tono sudah ingin marah-marah saja. Tapi hari ini, untuk marah pun rasanya sudah tidak ada tenaga. Lagipula kalau dipikir-pikir, apa gunanya marah-marah. Paling-paling mereka hanya menunduk sambil mengangguk-angguk. Kemarahannya tidak merubah apapun.
Jadi hari ini Tono memutuskan untuk tidak marah.

Rapat sudah berlangsung empat jam sejak jam sembilan tadi pagi.
Mereka semua belum makan siang. Anehnya, tidak ada seorangpun yang berani mengusulkan untuk istirahat makan. Maka Tono mengusulkan untuk berhenti rapat dan makan siang bersama saja. Semua orang terkejut, tapi senang.

Makanan pun dipesan. Setelah makan, Tono berinisiatif membeli es puter di depan kantor untuk semua orang. Tentu saja semua orang heran. Kok hari ini lain sekali?Tapi tanpa sadar, suasana berubah menjadi lebih relaks ketika mereka makan es puter. Anehnya, tiba-tiba rapat menjadi lebih hidup. Sambil makan es puter tiba-tiba ide mengalir. Hampir setiap orang lebih berani memberikan usulan. Mereka meninggalkan ruang rapat dengan keyakinan baru. Bulan depan penjualan pasti akan meningkat lagi. Tono puas. Bukan karena es puter. Tapi karena sikap hati Tono yang merubah suasana rapat yang tadinya negatif menjadi positif. Es puter hanya 'alat' saja. Change your heart first! And everybody will change!

Sumber: Es Puter oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting & Training Specialist

Keterlambatan

Meri senang. Atasannya yang baru kali ini sangat baik. Betul-betul baik. Dulu ketika Meri mulai bekerja di perusahaan itu, semua serba kaku. Absensi diperiksa tiap hari. Terlambat sedikit dipotong uang makan. Bahkan, kalau dihitung-hitung, bila sampai terlambat satu setengah jam lebih, maka uang makan akan habis dipotong. Memang sih, tidak ada yang terlambat sampai selama itu. Tapi tetap saja bikin hati deg-degan.
Tapi, sejak atasan yang baru ini masuk. Segala sesuatunya berubah.
Meri adalah sekretaris langsung atasan ini. Atasannya yang baru ini sangat rajin. Tiap pagi selalu merupakan orang pertama yang sampai di kantor sesudah office boy.

Orangnya juga sangat baik. Tidak pernah marah-marah. Selalu bicara dengan sabar. Mula-mula semua orang berusaha masuk lebih pagi.
Minggu pertama, tak seorang pun terlambat.

Tapi mulai minggu kedua, salah satu karyawan terlambat. Dia terlambat dua puluh menit. Semua orang tegang. Wah bagaimana nanti.

Ternyata bos hanya bertanya mengapa terlambat. Ketika dijawab karena macet, beliau hanya berkata agar lain kali berangkat lebih pagi.
Sudah. Begitu saja. Tidak ada marah-marah. Tidak ada potongan uang makan. Wah, enak juga ya. Pelan-pelan keesokan harinya beberapa orang juga terlambat. Eh, bos juga hanya memandang mereka dan bertanya mengapa terlambat. Setelah dijawab, beliau menganjurkan agar jangan terlambat lagi. Wah tidak marah juga.

Meri mulai lebih santai dalam bekerja. Demikian juga karyawan lainnya. Meri yang dulu selalu buru-buru berangkat dari rumah, kini santai. Sekali dua kali dia terlambat, bos hanya menegur. Setelah itu, lebih aneh lagi. Pada keterlambatan keempat dan seterusnya, bos tidak lagi menegurnya. Bos akan bersikap seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Langsung membicarakan pekerjaan. Tidak pernah lagi menanyakan mengapa terlambat.

Suatu kali, di kantor kedatangan seorang tamu. Ternyata tamu tersebut adalah karyawan di kantor tempat atasannya dulu bekerja. Di sana dia tidak betah lagi dan ingin ikut pindah ke kantor Meri. Dia cerita bahwa di sana, bosnya yang sekarang sangat galak. Karena itu dia ingin pindah kemari.

Meri menyampaikan masalah ini ke atasannya. Atasannya memang mengenali mantan karyawannya itu. Beliaupun menemui orang itu dan berbincang-bincang sebentar. Setelah itu tamu tersebut pamit. Meri pun kemudian masuk ke ruang bosnya karena dipanggil. Meri pikir, pasti orang itu diterima, karena di sini memang sedang mencari tambahan karyawan.

Ditolak

Tapi, jawaban atasannya membuatnya terheran-heran. Tidak, kata atasannya. Orang itu tidak diterima. Meri memberanikan diri bertanya ke atasannya. Mengapa orang itu tidak diterima bekerja?

Jawaban atasannya cukup panjang. "Karena dulu, di kantor yang lama, dia selalu terlambat masuk kantor. Sudah saya peringatkan beberapa kali tapi tetap saja terlambat. Berarti dia tidak menghargai saya, dia tidak menganggap perkataan saya sebagai sesuatu yang penting.
Saya sudah bosan dan tidak mau lagi menegurnya. Akhirnya saya biarkan saja supaya dia sadar sendiri. Eh, bukannya sadar. Malah makin lama semakin gila keterlambatannya. Ya sudah. Saya menilai orang seperti itu tidak bisa bekerja sama dengan saya. Masa sekarang saya harus menerima dia bekerja di sini?"

Meri hanya bengong mendengar penjelasan atasannya. Beliau bicara tanpa kesan marah. Hanya kesan sedih, agak menyayangkan mengapa orang itu tidak berubah. Celaka! pikir Meri. Dia sendiri juga sekarang sering terlambat. Hatinya jadi merasa kurang enak. Rasanya jadi sungkan sendiri. Malu juga sih.

Dia merasa disindir, meskipun dia tahu atasannya tidak bermaksud begitu. Meri hanya bisa berjanji pada dirinya sendiri untuk merubah sikapnya. Dia tidak mau terlambat lagi. Dia tidak ingin mengecewakan atasannya yang sudah demikian baik.

Mulai keesokan harinya, Meri langsung datang lebih pagi. Atasannya tidak berkomentar apa-apa. Beliau memang pendiam. Tapi Meri berniat masuk pagi bukan karena ingin mencari pujian. Tapi karena dia ingin membalas kebaikan atasannya yang sudah bersikap baik.

Rekan-rekan kerja lainnya mulai bertanya-tanya kenapa Meri sekarang rajin. Meri segera menceritakan kisah tamu yang pernah melamar, tapi ditolak karena dulu sering terlambat. Keesokan harinya beberapa karyawan datang lebih pagi. Demikian juga lusanya dan seterusnya.

Jumlah karyawan yang datang terlambat semakin berkurang. Ada juga yang santai-santai saja dan tetap terlambat. Tapi kini yang menegur bukan lagi atasannya, tapi karyawan lainnya, office boy, Meri, teman- temannya sendiri. Lama kelamaan dia malu juga sih.

Perubahan tidak selalu harus dengan cara kekerasan. Do not wait for someone to tell you! You can change by yourself if you want to!

Sumber: Keterlambatan oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting & Training Specialist

Bahaya "Berpikir" Positif

Dunia objektif muncul dari pikiran itu sendiri -Buddha

Ide menulis artikel ini muncul saat saya berbincang dengan rekan saya, Ariesandi Setyono, saat mengevaluasi mekanisme pikiran. Kami mengevaluasi pengalaman hidup kami berdasarkan berbagai buku positif yang telah kami baca. Diskusi berjalan seru, sangat inspiring dan mind challenging.

Jujur saya akui bahwa tidak mudah untuk bisa benar-benar menjadi seorang pengamat atas belief system dan proses pikiran kami. Kami harus melepaskan keterikatan dan kemelekatan terhadap berbagai informasi dan konsep yang telah kami terima selama ini, yang kami yakini sebagai hal yang benar. Bill Gould, mentor kami selalu berpesan, "You have to challenge everything, including your own belief system or assumptions. That's the key to quantum leap in personal growth and consciousness expansion".

Salah satu topik yang kita bahas dengan intens adalah mengapa berpikir positif justru semakin memperburuk kinerja seseorang. Topik ini menjadi materi yang menarik untuk didiskusikan karena kami sendiri telah mengalami efek negatip dari "berpikir" positif.

Benar. Anda tidak salah baca. Kami mengalami efek negatip dari "berpikir" positif. Namun tolong jangan protes dulu. Saya menempatkan kata berpikir dalam tanda kutip. Apa maksudnya?

Sering kali kita merasa yakin, diyakinkan, atau asal percaya bahwa kita harus berpikir positif. Menurut berbagai buku dan motivator atau trainer berpikir positif baik bagi diri kita. Yang jarang diungkapkan adalah bahwa berpikir positif itu harus benar-benar tulus dan holistik.

Yang saya maksudkan dengan holistik adalah baik pikiran sadar maupun bawah sadar keduanya saling setuju, sinkron, kongruen dalam berpikir positif.

Ambil contoh orang yang menetapkan suatu target penjualan. Misalnya target bulan ini adalah 50% lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Pikiran sadar kita "percaya", lebih tepatnya dipaksa untuk percaya, bahwa kita mampu mencapai target ini. Kita melakukan afirmasi setiap hari, menempel kata-kata positif di berbagai tempat, dan melakukan visualisasi. Apa yang terjadi?

Ternyata ada bagian dari diri kita yang menolak hal ini karena kenaikan target dianggap terlalu tinggi sehingga dirasa tidak mungkin bisa dicapai. Akibatnya kita tidak berhasil mencapai target ini.
Namun kita tetap "percaya" dan "positive thinking" bahwa kita dapat mencapai apapun asal kita yakin. Bukankah ini yang diajarkan di hampir semua buku positif dan berbagai seminar motivasi?

Lalu apa yang kita lakukan? Kata orang, "Kegagalan adalah sukses yang tertunda", "Tidak penting berapa kali kita jatuh yang penting adalah kita bangkit setiap kali kita jatuh", "Tidak ada namanya kegagalan, yang ada adalah hasil yang tidak kita inginkan", dan masih banyak lagi kata-kata mutiara berkenaan dengan kegagalan. So....? Keep trying..... pokoke maju tak gentar, pantang menyerah.

Setelah dua bulan, tiga bulan, empat bulan, dan kita masih belum berhasil mencapai goal kita maka kita mulai merasa nggak enak. Tapi kita tetap berusaha berpikir positif. Why? Karena memang begitulah yang kita baca di buku-buku positif.

Lalu, mengapa "berpikir" positif justru akan sangat berbahaya bagi diri kita? Pada kasus di atas, yang terjadi sebenarnya adalah kita, secara tidak sadar, telah mengedukasi pikiran bawah sadar bahwa kita sebenarnya memang tidak kompeten alias gagal. Lho, kok bisa begitu ?
Lha, buktinya kita sudah berkali-kali tidak berhasil mencapai target.
Pikiran sadar kita dapat kita paksa untuk berpikir positif. Namun pikiran bawah sadar kita tidak bisa kita bohongi. Setiap kali kita gagal mencapai goal maka pikiran bawah sadar diedukasi dengan suatu pelajaran negatip, "Ternyata memang saya nggak bisa mencapai goal ini". Dengan mengalami kegagalan beruntun maka efek repetisi terjadi (ingat prinsip pemrograman pikiran). Dan kita, secara bawah sadar, semakin percaya bahwa kita memang tidak mampu.

Kalau anda tidak percaya apa yang saya jelaskan coba anda rasakan perasaan anda saat saya berkata, "Set Goal". Bagaimana perasaan anda saat anda melakukan Goal Setting. Apakah yang muncul perasaan positif atau negatip?

Dari pengalaman saya, kata "goal setting" ternyata mempunyai konotasi negatip. Mengapa ? Karena kata ini mengingatkan kita akan kegagalan kita. Banyak kawan saya yang secara jujur berkata, "Sekarang kalau saya diminta set goal maka perasaan saya langsung menolak. Ada perasaan nggak enak di hati saya. Nggak tahu kenapa bisa seperti ini".

Sebenarnya jawabannya sederhana. Goal karena terlalu sering tidak berhasil dicapai akhirnya mempunyai konotasi negatip. Kita secara bawah sadar menghubungkan/meng-anchor kata goal setting dengan perasaan gagal. Jadi setiap kali kita mendengar kata "goal setting"
maka yang muncul adalah memori atau pengalaman kita saat gagal
(berkali-kali) dalam mencapai goal kita.

Jadi, semakin seseorang berusaha untuk positif maka semakin negatip ia jadinya. Mengapa bisa begini? Karena memori manusia bersifat holographic sehingga mempunyai kemampuan/sifat cross referenced.
Artinya, tidak ada memori yang berdiri sendiri. Semuanya saling terkait. Saat kita berusaha positif maka pada saat yang sama pula kita mengaktifkan memori negatip, di bawah sadar. Semakin kita berusaha positif maka semakin kuat efek negatip. Hal ini jarang disadari dan dimengerti orang.

Seorang kawan yang bergerak di bidang marketing, satu minggu setelah menerapkan konsep keselarasan pikiran positif (sadar dan bawah sadar) mampu meningkatkan penghasilan 3 (tiga) kali lipat dibandingkan sebelumnya. Dan yang lebih hebat lagi ia tidak usah kerja keras untuk mencapai hal ini. Kesannya adalah semua sudah ada yang mengatur.

Satu hal yang perlu anda ketahui yaitu kawan saya ini adalah orang yang selalu berusaha berpikir positif, telah membaca sangat banyak buku positif, menghadiri berbagai seminar di dalam negeri dan di luar negeri. Ia malah telah bertemu dengan dua orang top. Seorang di bidang motivasi dan seorang lagi adalah penulis buku keberhasilan finansial yang sangat terkenal. Sudah tentu ia membayar sangat mahal untuk bisa menghadiri seminar-seminar ini. Apalagi seminarnya dilakukan di Singapore.

Namun apa yang terjadi? Semakin ia berusaha positif maka semakin dalam ia terperosok ke dalam perangkap berpikir negatip. Kawan saya ini protes keras saat pertama kali mendengar tentang "Bahaya Berpikir Positif". Baginya statement ini nggak masuk akal. Namun setelah berdiskusi cukup panjang kawan saya akhirnya bisa memahami maksud saya.

Lalu bagaimana cara berpikir positif yang benar-benar positif? Ya itu tadi. Pikiran sadar dan bawah sadar harus selaras. Yang harus menjadi landasan pijak adalah apa yang ada di pikiran bawah sadar. Jadi, untuk benar-benar mampu berpikir positif yang positif maka pikiran positif itu harus berawal di pikiran bawah sadar. Bila ini berhasil kita lakukan maka efeknya akan sangat luar biasa. Kita akan dapat dengan sangat mudah mencapai target yang kita inginkan.

Anda pasti bertanya, "Ok, kalau begitu bagaimana caranya?" Ada banyak cara untuk bisa menyelaraskan pikiran sadar dan bawah sadar, untuk bisa membuatnya kongruen. Kita bisa menggunakan NLP, Hypnotherapy (ada sangat banyak teknik), SMC, Visualisasi, Mind Reprogramming dengan bantuan guided imagery, menggunakan musik/audio dengan muatan frekwensi khusus, atau teknik lainnya. Akan sangat panjang dan teknis bila saya jelaskan dalam artikel ini.

Sumber: Bahaya “Berpikir” Positif oleh Adi W. Gunawan, lebih dikenal sebagai Re-Educator and Mind Navigator, adalah pembicara publik dan trainer yang telah berbicara di berbagai kota besar di dalam dan luar negeri. Ia telah menulis best seller Born to be a Genius, Genius Learning Strategy, Manage Your Mind for Success, Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan ?, dan Hypnosis – The Art of Subcsoncsious Communication.

Coach Yourself: Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri

Memang tidak gampang menjadi seorang guru, apalagi menjadi guru bagi
diri sendiri. Sampai saat ini, terutama di Indonesia, banyak orang
yang tidak menghargai pekerjaan seorang guru karena satu dan lain
hal, antara lain karena penghargaan finansial yang rendah. Sangat
disayangkan sekali karena sebenarnya pekerjaan seorang guru itu lebih
dari sekedar mulia.

Intinya, apa yang dikerjakan seorang guru sesungguhya adalah suatu
proses yang setiap orang pasti lakukan dan terapkan pula pada dirinya
sendiri. Proses yang baik akan menghasilkan output yang baik, proses
yang tidak baik akan menghasilkan output yang tidak baik pula.

Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan "menjadi guru bagi
diri sendiri" dan "coach yourself," mari kita telaah sebenarnya
profesi apa saja yang sebenarnya adalah metamorfosa dari profesi ini.
Mungkin Anda tidak menyadari bahwa Anda sendiri pun adalah
seorang "guru." Bagaimana mungkin?

Seorang salesman pun sebenarnya adalah seorang guru, paling tidak
bagi customer dan diri sendiri serta fellow workers yang memerlukan
informasi produk darinya. Seorang eksekutif pun sebenarnya adalah
seorang guru. Dalam melakukan negosiasi dan presentasi, misalnya, ia
perlu dengan jelas, jujur dan gamblang menggambarkan keadaan yang
sebenarnya akan apa yang diajukan di muka umum.

Lantas, apa yang dimaksud dengan "coach yourself" dan "menjadi guru
bagi diri sendiri?" Pertama, seorang "coach" adalah seseorang yang
membantu memperjelas arah jalan dan bagaimana mencapai tujuan. Dengan
berbagai cara, strategi dan tip, seorang coach berusaha meningkatkan
awareness akan kesempatan-kesempatan yang ada untuk dicapai dalam
timeframe tertentu.

Lantas dengan menjadi coach bagi diri sendiri, ini adalah kesempatan
Anda untuk mencari jalan dengan meningkatkan awareness akan segala
kemungkinan, kesempatan dan strategi. Misalnya saja, seorang
mahasiswa yang baru lulus kuliah. Janganlah Anda "memakai kacamata
kuda" dengan tanpa kritisisme sama sekali. Seorang lulusan marketing,
misalnya, tidak perlu terpaku akan pekerjaan-pekerjaan marketing dan
sales saja, karena sebenarnya marketing adalah bidang yang luas.
Demikian luasnya sehingga sebenarnya anda sendiri pun adalah "barang
dagangan."

Mengapa Anda tidak menciptakan suatu "image" alias "merek dagang"
mengenai diri Anda sendiri? Misalnya, si Susan adalah seorang fresh
graduate sarjana pemasaran dari suatu universitas swasta. Namun,
karena kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang ini, ia
hendak mencoba melakukan bisnis.

Bisnis apa? Pertama-tama, buatlah inventaris kelebihan diri sendiri
dan fokuskan hal ini supaya skills dan talenta di bidang ini
ditingkatkan semaksimal mungkin dengan berbagai cara. Lantas,
pengetahuan pemasarannya bisa digunakan untuk memperkenalkan produk
atau jasa yang sesuai dengan "image" alias "merek dagang" yang hendak
ditawarkan ke pasar.

Ingat untuk selalu tahu ke mana arah yang dituju.

Kedua "menjadi guru bagi diri sendiri." Anda hendaknya mengenal
kekurangan diri sendiri dan memfokuskannya ke tujuan yang akan
dicapai. Bayangkan jika Anda adalah seorang guru, apa yang akan Anda
lakukan untuk membantu murid Anda (yang nota bene adalah diri Anda
sendiri) supaya tujuannya bisa dicapai dalam waktu yang telah
ditentukan?

Jelas, Anda perlu membuat lesson plan, sebagaimana seorang guru
mempersiapkan pelajaran-pelajaran bagi murid-muridnya. Lesson plan
itu sendiri terdiri dari obyektif yang diharapkan untuk dicapai
dalam "kelas" tersebut yang perlu diselesaikan dalam timeframe
tertentu. Selain itu, lesson plan juga terdiri dari beberapa poin
yang dikenal sebagai steps (langkah-langkah).

Contoh obyektif, misalnya, mencapai penghasilan 20 juta Rupiah dalam
satu bulan. Steps atau langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk
mencapai ini adalah dengan menjual produk dengan omzet satu juta
Rupiah per hari, yang berarti perlu menjual 100 ribu Rupiah per jam
(asumsi 10 jam kerja per hari). Bagaimana mencapai hasil ini? Anda
sendiri yang bisa menjawab, mungkin dengan berusaha meningkatkan daya
tarik produk dan jasa Anda, serta lain-lainnya.

Intinya, sebagai seorang coach dan guru bagi diri sendiri, Anda perlu
mengenal diri sendiri, segala kelebihan dan kekurangannya, lantas,
stick to the plan dengan menjalankan tahap demi tahap dalam hitungan
waktu yang bisa dikuantifikasikan. Run your life as a business.
Jalankan hidup Anda sebagai bisnis, Anda pasti berhasil.

Now, siapa bilang profesi seorang guru itu monoton dan tidak
menghasilkan? Anda sendiri pun adalah seorang guru bagi diri Anda
sendiri, jadi janganlah kita mengecilkan arti kata "seorang guru."

Sumebr: Coach Yourself: Menjadi Guru Bagi Diri Sendiri oleh Jennie S.
Bev. Jennie S. Bev adalah edukator, penulis, konsultan dan penerbit
berbasis di San Francisco Bay Area. Ia telah menerbitkan lebih dari
40 buku dan 900 artikel di manca negara. Baca perjuangan hidup dan
prestasinya di JennieSBev.com.

"Ibu, I Miss You So Much"

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang
kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita.
Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan
mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita
melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat
balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan
sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah
sakit di Jakarta. Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi
penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat
tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang
ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah
layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya.
Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu".
Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya?Bukankan setiap
pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta
izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak
Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan
mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta
rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu
menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga
puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi.
Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali
lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang
Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil
kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan
berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami
deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena
istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu
kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya,
pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat
ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya
Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-
Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti
akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang
pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan
keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan
sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga
dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau
Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher
nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah
kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah
menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di
jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan
kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam
keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya
sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri
mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75
saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata
berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku
kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh
ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku
bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan
ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya
akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah
penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan
mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang
saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani
tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di
rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat
ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah
beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil,
duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-
teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon.
Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata
mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang
itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat
nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama
ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik
telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku
cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata
yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin
dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa
ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan
memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan
sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat
pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu
telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan
operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya
merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya
berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan
dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri
sendiri "Ibu, I miss you so much."

Sumber: "Ibu, I Miss You So Much" oleh Jamil Azzaini, Senior Trainer
dan penulis buku Best Seller 'KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial
Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup'.

Mengapa Harus Malu?

"The most important human endeavor is striving for morality in our
actions. Our inner balance and even our very existence depend on it.
Only morality in our actions can give beauty and dignity to life.

– Upaya manusia yang terpenting adalah tindakan yang berlandaskan
moralitas. Keseimbangan jiwa dan keberhasilan kita sangat tergantung
padanya (moralitas). Hanya sikap dan tindakan yang berlandaskan
moralitas yang dapat memberikan keindahan dan meningkatkan martabat
kehidupan kita."
Einstein

Pada bulan Maret lalu saya menjenguk salah seorang kakak di
Melbourne. Selama 3 hari di kota tersebut, saya benar-benar merasa
heran karena cost of living atau biaya hidup di kota maju seperti itu
tidak seperti yang saya bayangkan. Harga buah-buahan dan daging
maupun kebutuhan pokok lainnya cukup murah. Sementara daya beli
masyarakat disana cukup besar. Bisa dibayangkan kesejahteraan
masyarakat disana pasti terjamin.

Keadaan itu sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di
Indonesia. Harga-harga kebutuhan pokok di Indonesia semakin tak
terjangkau oleh kebanyakan masyarakat. Padahal negri ini dikenal
memiliki tanah subur dan sumber daya alam yang kaya.

Sebaliknya, negri ini ternyata juga dikenal memiliki hutang luar
negri sangat banyak. Bahkan menurut Paul Wolfowits, Presiden Bank
Dunia, untuk tahun 2006 Indonesia dijanjikan pinjaman sebesar US $900
juta. "Jumlah itu adalah jumlah yang sangat serius," ucapnya dalam
kunjungan ke Indonesia beberapa waktu yang lalu.

Kekayaan negri ini maupun hutang luar negri lebih banyak
diselewengkan daripada dimanfaatkan untuk mengoptimalkan fungsinya
untuk mengentaskan kemiskinan ataupun memajukan kehidupan bangsa.
Korupsi telah berakibat semakin bertambah besar jumlah penduduk
miskin dan penganguran. "Korupsi adalah persoalan yang sangat serius
di negri ini," ujar Paul Wolfowits saat meminta bantuan KPK untuk
mengawasi adanya penyimpangan.

Persoalan korupsi di Indonesia sangat sulit diberantas. Paul
Wolfowits menilai itu karena sistem yudisial di Indonesia buruk.
Faktor tersebut sesungguhnya penghalang bagi keadilan dan pertumbuhan
ekonomi Indonesia.

Bila kita menengok ke Cina, Zhu Rongji adalah satu contoh seorang
pemimpin yang mampu menghapus label negrinya dari negara terkorup di
dunia. Ketika dilantik pada bulan Maret 1998 sebagai perdana mentri,
dengan lantang ia mengucapkan, "Berikan kepada saya seratus peti
mati. Sembilan puluh sembilan untuk koruptor, dan satu untuk saya
jika saya melakukan hal yang sama."

Sejak tahun 2001, terhitung lebih dari 4.000 jiwa dieksekusi mati.
Ribuan peti mati itu terisi pejabat tinggi sampai biasa, pengusaha,
hingga wartawan. Di lain pihak, penegakan hukum di Cina dengan cara
menghukum mati siapapun yang melanggar hukum tanpa pandang bulu
dinilai sangat mengerikan. Tetapi itulah salah satu jalan yang telah
menyelamatkan Cina dari kehancuran.

Sementara itu Cina juga menganggarkan dana cukup besar untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain memajukan
pendidikan di dalam negri, pemerintah mengirim ribuan siswa belajar
ke luar negri dan mengundang para pakar bisnis berbicara di Cina.
Cara tersebut telah memacu ekonomi Cina bertumbuh pesat, mencapai 9%
per tahun.

Sikap korup atau manipulatif sangat merugikan dan menimbulkan
malapetaka bagi pihak lain, menghambat kemajuan dan hanya menciptakan
kehancuran. Dari Cina kita melihat seorang pemimpin jelaslah memiliki
peran yang sangat signifikan untuk menekan tindak korupsi. Tetapi
kita tidak perlu menunggu terlalu lama sampai pemimpin seperti Zhu
Rongji muncul untuk memperbaiki keadaan. Kita sendiri harus
berinisiatif membangun kesadaran dan sikap baru agar tidak ikut
terjun dalam jurang kehancuran.

Langkah yang pertama adalah membangun kesadaran `malu' melanggar
nilai-nilai moralitas ataupun melakukan perilaku buruk lainnya.
Meminjam istilah yang biasa digunakan oleh Aa Gym, seorang ulama
ternama di Indonesia, budayakan kesadaran tersebut dari dalam diri
sendiri, dari hal yang terkecil, dan sejak saat ini. Komitmen yang
tertanam untuk selalu menjunjung nilai-nilai moralitas akan membentuk
sikap disiplin dan memacu kemauan untuk memperbaiki kualitas diri.

Bila sikap `malu' melanggar nilai-nilai moralitas serta melakukan
perilaku buruk lainnya benar-benar membudaya di dalam diri kita
sendiri, maka tak sulit untuk mengajak orang-orang di sekitar kita
untuk bersikap serupa. "The silence often of pure innocence.
Persuades when speaking fails. – Diam seringkali pertanda kebaikan
yang murni. Berdampak lebih nyata, ketika kata-kata sudah tidak
berguna," kata seorang seniman Inggris ternama, William Shakespeare.
Kurang lebih ia mengingatkan bahwa sikap adalah kata-kata yang paling
efektif untuk mempengaruhi orang lain.

Contoh bangsa yang memiliki rasa malu tinggi dan sangat maju adalah
Jepang. Bangsa Jepang adalah bangsa yang paling tidak tahan
menanggung malu. Jika melakukan kesalahan, pelanggaran hukum atau
gagal, maka mereka tidak segan menebusnya dengan kematian. Setiap
tahun sedikitnya 175 orang melakukan Harakiri, yaitu bunuh diri untuk
menegakkan nama baik dan harga diri. Bayangkan, alangkah pesat
kemajuan kita dan bangsa ini di bidang tehnologi dan berbagai bidang
lainnya seperti di Jepang, bila setiap individu di Indonesia memiliki
rasa `malu' melanggar nilai-nilai moralitas serta melakukan perilaku
buruk lainnya.

Membudayakan sikap `malu' memerlukan kejujuran, untuk menilai apakah
perbuatan kita sendiri sudah sesuai dengan norma atau moralitas
kemanusiaan ataukah tidak. Dikatakan oleh Einstein, "If a rich man is
proud of his wealth, he should not be praised until it is known how
he employs it – Jika seseorang sangat bangga dengan kekayaannya, dia
tidak perlu dipuji sampai diketahui bagaimana cara dia mendapatkan
kekayaan tersebut." Einstein menandaskan bahwa martabat dan kekaguman
pada seseorang tidak dapat diperoleh dari hasil manipulasi atau
perbuatan buruk lainnya.

Bila kita jujur menilai perbuatan kita, lalu merasa malu bila upaya
yang kita lakukan tidak sejalan dengan nilai moralitas, maka hal itu
akan memacu diri kita untuk memperbaiki diri dan bersikap lebih baik
lagi. Yakinilah bahwa setiap perbuatan yang sejalan dengan moralitas
dan kebaikan pasti bermanfaat untuk kemajuan hidup Anda. "Goodness is
the only investment that never fails. – Kebaikan adalah satu-satunya
investasi yang tidak pernah gagal," tegas Henry David Thoreau.

Malu bukan selalu pertanda buruk. Malu melakukan perbuatan yang
melanggar moralitas ataupun perbuatan buruk lainnya adalah jalan
untuk memperbaiki diri sekaligus keadaan kita. Saya yakin seandainya
sikap malu hal ini dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia terutama
para pengusaha dan abdi negara, ditunjang dengan hukum dan peradilan
yang tegas seperti legenda penegak hukum ideal yang tergambar dalam
serial film Justice Bao, maka masyarakat pasti lebih sejahtera, tidak
ada kemiskinan ataupun busung lapar maupun hutang luar negri yang
besar.

Sumber: Mengapa Harus Malu? oleh Andrew Ho. Andrew Ho adalah seorang
motivator, pengusaha, dan penulis buku best seller.

Kreativitas

Yetti sangat senang ketika bisa diterima sebagai manajer di perusahaan tempatnya bekerja. Tapi pada hari pertama masuk, dia harus mengadakan presentasi di depan direktur dan manajer pemasaran.

Selama beberapa hari dia mempersiapkan bahan-bahan presentasi. Idenya cukup banyak untuk memajukan perusahaan. Dari ide merapikan administrasi, ide promosi, hingga ide strategi pemasaran dan penjualan. Tapi pada saat presentasi ternyata direktur dan manajer pemasaran sangat merendahkannya. Semua idenya ditolak dengan alasan bahwa semua itu sudah pernah dilakukan di perusahaan tersebut tapi ternyata gagal.

Yetti hampir-hampir tak percaya bahwa semua idenya tidak dapat diterima. Tapi karena dia sudah diterima bekerja dia tetap melanjutkan kerjanya.

Dia mencari ide-ide lain yang lebih kreatif dalam rangka memajukan perusahaan. Tapi setiap idenya ditolak dengan berbagai alasan. Bahkan ide terkecil sekalipun ditolak, seperti pembuatan form untuk mencatat data klien. Manajer pemasarannya tidak mau menerapkannya. Ketika dia melaporkan kepada direktur, ternyata beliau membela si manajer pemasaran. Akhirnya Yetti kecewa. Dia pun mulai jarang mengajukan idenya. Bahkan lama kelamaan dia berhenti mencari ide baru. Dia bekerja apa adanya tanpa memikirkan strategi baru atau ide-ide lain yang kreatif.

Setelah bekerja selama satu tahun, Yetti merasakan akibatnya yang ternyata merugikan dirinya sendiri. Dia merasa kecerdasannya menurun, semangatnya yang biasa menggebu-gebu kini menjadi biasa-biasa saja.
Pekerjaan yang dulu disukainya kini menjadi suatu tugas yang rutin.

Dia merasa kreatifitasnya menurun. Merasakan hal ini Yetti segera bertindak. Dia sadar bahwa keadaannya akan semakin parah dan semakin merugikan dirinya kalau dia tetap bersikap pasif dan masa bodoh. Dia tidak mau membatasi kreatifitas dan semangatnya lagi. Dia ingin maju.

Yetti segera mulai memikirkan ide-ide baru lagi. Dia kembali melatih kreatifitasnya dan terus mencari strategi baru yang dapat memajukan perusahaan. Meskipun usulnya masih tetap ditolak, dia tidak putus asa. Yetti malah merasa bahwa dia sedang dilatih agar lebih pintar.

Dia terus memperbaiki ide-idenya. Ketika manajer pemasaran dan direkturnya dipromosikan dan dipindahkan ke bagian lain sesuai kebijaksanaan perusahaan, maka Yetti sudah siap dengan segudang ide yang lebih sempurna. Diapun kemudian diangkat menjadi direktur.

Yetti bersyukur karena dia sudah siap. Seandainya dia dulu tetap masa bodoh dan asal kerja saja, maka dia pasti belum siap untuk diangkat sebagai direktur. Dia tidak mau membatasi kemajuan dirinya.

Meskipun selalu gagal, dia justru belajar untuk lebih baik. Idenya lebih disempurnakan karena selalu mengalami penolakan. Kemampuannya meningkat. Tantangan membuatnya lebih baik.

Surya bekerja di bagian administrasi gudang. Dia pun sebenarnya penuh ide dan gagasan yang cemerlang. Misalnya membuat check list untuk memudahkan pamantauan stok barang, membuat catatan siapa saja yang bertugas setiap hari sehingga mudah dihubungi apabila ada masalah yang harus diselesaikan.

Masalahnya, dia merasa masih baru. Masa karyawan baru sudah sok mau mengubah ini itu. Dia kurang berani mengajukan idenya. Kalau didesak dengan pertanyaan atau bantahan dia segera diam dan mematikan idenya sendiri. Dia merasa semua orang lebih pintar darinya sehingga mereka pasti lebih benar.

Tidak merugikan
Sikap Surya tidak merugikan perusahaan, karena ada orang lain yang cepat atau lambat tanpa sengaja akan memikirkan ide yang sama dengan ide Surya.

Karena mereka lebih fokus dan lebih berani mempresentasikan idenya, maka ide tersebut dapat dijalankan. Yang mendapat pujian bukan Surya, meskipun Surya pernah lebih dahulu memikirkan ide tersebut. Lama kelamaan Surya semakin pesimis karena merasa kurang mampu. Dia tak pernah lagi berpikir kreatif.

Yonas sangat rajin bekerja. Dia karyawan di bagian penjualan. Selain hasil penjualannya paling tinggi, dia juga sering mengusulkan ide ke atasannya. Misalnya ide pendataan pelanggan, ide pemantauan penjualan pribadi. Semangatnya juga paling tinggi.

Di saat-saat menjelang akhir bulan di mana penjualan belum mencapai target, dialah satu-satunya yang tidak menyerah. Dia berusaha makin giat. Kelebihannya membuatnya mulai diberi kepercayaan untuk mensupervisi teman-temannya yang lain.

Anehnya, hampir semua temannya kurang suka pada Yonas. Salah seorang temannya bahkan bicara terus terang bahwa dia dan semua orang tidak suka pada Yonas.

Untung Yonas menanggapi dengan tenang dan dengan kepala dingin. Dia tetap paling rajin bekerja, dia tetap mempertahankan prestasinya. Dia tidak mau kehilangan semangat hanya gara-gara pendapat atau perkataan orang lain.

Dia tidak mau disetir oleh orang-orang di sekeilingnya. Dia tetap maju. Dia tidak mau dibatasi. Tidak heran kalau dia semakin dipercaya sehingga kemudian dia diangkat secara resmi sebagai supervisor penjualan.

Kini teman-temannya mulai mencontoh sikap Yonas. Mereka juga mulai mengembangkan kreatifitas. Siapapun dapat mengajukan ide demi kemajuan bersama. Be creative! Reach for the stars!

Sumber: Potensi Diri - Kreativitas oleh Lisa Nuryanti, Motivator dan Pemerhati Kepribadian

Hirma Maya Maysaroh

Ketika puluhan ribu orang memburu terbitan perdana majalah Playboy
Indonesia dengan harga tergolong mahal, maka perhatikanlah ini: Hirma
Maya Maysaroh, 10 tahun, sedang berjuang mempertahankan hidupnya. Dia
miskin, lumpuh, kurus, matanya cekung. Dia anak yatim. Ketika puluhan
ribu orang membuang uang puluhan ribu rupiah hanya ingin menyaksikan
gambar-gambar gadis Playboy --yang diharap dapat memuaskan nafsunya--
maka perhatikanlah ini: Muhini beranak tiga, berbagai penyakit
menderanya. Suaminya sudah tiada.

Muhini dan Hirma Maya Maysaroh --ibu dan anak. Kedua-duanya, seperti
diberitakan Republika (11/4), lumpuh dengan penyebab berbeda. Muhini,
48 tahun, terkena stroke dan menderita tuberkulosa (TB). Penyakit TB
itu menyebar pula pada anak bungsunya, Hirma. Selain TB, Hirma --
hanya kulit melapisi tulang-tulang tubuhnya-- juga menderita gizi
buruk. Berat badannya 18 kilogram dari semestinya 25 kg. Kulitnya
rusak dan terdapat luka borok di paha kirinya.

Muhini kini dirawat di lantai delapan Rumah Sakit Tarakan, Jakarta,
atas bantuan Camat Tamansari dan Lurah Pinangsia. Putrinya, Hirma,
dirawat dua lantai di bawahnya di rumah sakit yang sama. Muhini dan
Hirma lebih beruntung karena ada yang peduli.

Bagaimana dengan Suharto dan mungkin ratusan bahkan ribuan lain anak-
anak yang menderita gizi buruk? Pelajar SMP kelas 1 MTs Dua'ul Fukro
Bojong Bitung, Kabupaten Tangerang, itu hanya pasrah ketika berat
badannya semakin turun dan hanya tersisa 18 kg. Orang tuanya,
pedagang kecil, tak punya apa-apa untuk menolong anaknya meregang
nyawa. Suharto, 11 tahun, wafat pertengahan bulan lalu dalam belitan
kemiskinan.

Kini, pikirkanlah sampai awal April ini saja sudah ada 741 balita
yang tercatat berstatus gizi buruk di Jakarta. Jumlah ini bagian dari
76.178 anak di seluruh Indonesia. Angka itu diberitakan menurun
sekitar 1,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun apa pun, ada
banyak orang tak berdaya, menderita, dan bahkan sedang meregang nyawa
di sekeliling kita.

Kemiskinan dan ketidakberdayaan ada di sekeliling kita --sementara
pada saat bersamaan, sebagian dari kita dengan gagah mengeluarkan
puluhan ribu rupiah memburu Playboy hanya untuk memuaskan nafsu. Kita
lebih suka bertengkar tentang RUU Antipornogafi dan Pornoaksi, lebih
suka menyalahkan pemerintah seakan pemerintah memiliki lampu Aladin
yang dapat melakukan apa saja seketika.

Kita telah berubah menjadi bangsa yang suka bergunjing dan
menyalahkan. Pemimpin-pemimpin politik --yang pernah berkuasa--
agaknya merasa begitu gagah ketika mencela, seakan mereka adalah
orang-orang yang berhasil dan sangat mencintai rakyat. Mereka tampil
dalam wajah yang berseri, padahal persoalan hari ini adalah bagian
yang tak terpisahkan dari masa ketika mereka berkuasa. Tidakkah
sangat indah jika mereka berkata: Ayo, kita bersama membangun bangsa
ini, sebab rakyat yang menderita itu adalah juga pendukung saya.

Hirma Maya Maysaroh sedang menderita. Ribuan lain juga bernasib sama.
Mereka tak memerlukan politisi yang bertengkar, saling menyalahkan,
dan mencari celah agar dianggap sebagai pahlawan. Mereka tak
memerlukan Playboy, media-media pengumbar tubuh wanita, dan cerita-
cerita tentang perselingkuhan. Mereka tak membutuhkan mal-mal baru
untuk orang-orang memamerkan kekayaannya.

Hirma Maya Maysaroh dan puluhan ribu anak-anak lainnya tak butuh
semua itu. Mereka membutuhkan kepedulian, kasih sayang, dan cinta
kita. Jangan biarkan mereka letih mengetuk-ngetuk pintu rumah kita,
karena jemarinya sangat lemah: Bukalah pintu selebar-lebarnya untuk
mereka, anak kita, yang kedinginan dan dalam gulita.

Sumber: Hirma Maya Maysaroh oleh Asro Kamal Rokan

Mencari Jalan vs. Membuat Jalan Sendiri

Sebagai seorang constructivist (salah satu aliran dalam ilmu
pembelajaran –Learning Theory), saya tidak percaya kepada "mencari
jalan." Sebaliknya, saya mengkonstruksi jalan hidup sendiri. Mungkin
Anda pun adalah seorang constructivist, namun selama ini "termakan"
mitos bahwa Anda perlu "mencari" jalan.

Mari kita telaah satu per satu beda "mencari" jalan dengan "membuat"
alias mengkonstruksi jalan sendiri. Kata "mencari" sendiri mempunyai
konotasi bahwa sesuatu yang dicari itu sebenarnya sudah ada, namun
karena satu dan lain hal, Anda "kehilangan" nya atau "belum
menyadari" keberadaannya, jadinya perlu "dicari."

Sedangkan, "membuat" jalan sendiri sudah jelas bahwa jalan itu belum
ada namun Anda konstruksikan sendiri dengan pasir, semen, aspal dan
bahan apa saja yang Anda miliki dengan tujuan dapat menggunakan
jalan tersebut untuk mengangkat diri Anda ke atas (apapun tujuan
itu). Mengkonstruksikan jalan hidup sendiri tidak lebih sulit
daripada "mencari" saja.

Kuncinya mudah saja. Ingatlah bahwa semua itu mudah saja. Jangan
sekali-kali Anda mempersulit keadaan dengan perasaan "betapa
sulitnya."

Banyak orang pandai dan super pandai yang saya kenal namun tidak
mencapai apa-apa di dalam hidup karena mempunyai perasaan "betapa
sulitnya" ini dan itu. Bagi saya pribadi, segalanya gampang. Intinya
jika ada hal-hal yang bagi saya "sulit," alias bakal membawa
kesulitan dalam mengkonstruksikan jalan hidup saya, maka saya akan
pecahkan dulu "sulit" ini sehingga ini menjadi "mudah."

Contohnya, ada beberapa teman yang merasa terbentur dalam karirnya
karena tidak punya gelar Master, misalnya. Yah, kuncinya ambillah
gelar itu. Walaupun "tidak ada waktu," yang nota bene adalah
perasaan saja, jangan sungkan untuk jalan terus. Jangan ragu
sedikitpun bahwa waktu akan terus berserta kita. Kalau sudah
dijalankan, pasti ada waktu.

Ada lagi yang merasa tidak cukup waktu untuk berolah raga. Waktunya
habis untuk bekerja 10 sampai 14 jam sehari, macet di jalan 2 jam
dan sisa waktu hanya tinggal 8 sampai 10 jam sehari yang habis untuk
nonton TV, bincang-bincang dengan keluarga dan tidur. Sebenarnya,
cukup 20 sampai 40 menit sehari "berolah raga" yang mengeluarkan
keringat untuk memacu detak jantung dan membakar lemak.

Kegiatan ini bisa dilakukan sambil menonton TV dan berbincang-
bincang juga dengan keluarga. Caranya ya mudah saja, jogging di
tempat, mengendarai sepeda statis atau treadmill di depan TV sudah
cukup. Tidak perlulah membuang 1 sampai 3 jam di jalan dan di
fitness center. Kuncinya bukan hanya niat, namun mengeksekusikan
niat itu dengan kesadaran penuh bahwa kesehatan adalah segalanya
dalam hidup ini. Tanpa kesehatan, tidak ada umur panjang, tanpa umur
panjang apapun yang Anda lakukan saat ini tidak bisa dinikmati oleh
keluarga, anak dan cucu di masa depan. Tentu saja, tidak semua orang
dikaruniai umur panjang karena ada banyak faktor yang
mempengaruhinya.

Namun, if you do your best to take care of your health, faktor-
faktor lain adalah uncontrollable yang tidak perlu dirisaukan. Apa
yang bisa Anda kontrol, seperti berapa banyak Anda makan dan waktu
berolah raga-lah yang perlu diperhatikan dan dirisaukan. Hal-hal
lain tak perlu dipikirkan hanya perlu didoakan saja.

"Tidak ada waktu" sekali lagi, hanya suatu ilusi belaka. Dengan good
time management, selama di perjalanan bermacet-macet ria pun bisa
digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang perlu dipikirkan secara
mental. Jika ada sopir, malah Anda bisa mengerjakan hal-hal
administratif dengan laptop atau membaca literatur-literatur yang
membantu pekerjaan atau kuliah Anda.

Membuat jalan sendiri juga berarti tidak mudah putus asa
ketika "kegagalan" yang ada di benak Anda menghantui diri Anda
demikian mendalam sehingga tidak berani bergerak. Beberapa tips
untuk melepaskan diri dari belenggu "mencari jalan" sehingga Anda
bisa leluasa "membuat jalan sendiri."

Pertama, semua kegagalan Anda terjadi di masa lalu. Masa depan Anda
adalah sukses, maka tinggalkan segala macam bentuk ketakutan akan
kegagalan, toh itu hanya di masa lalu bukan?

Kedua, semua itu gampang. Americans bilang, "that's a piece of
cake." Tidak ada yang sulit dalam hidup ini. Hanya pikiran kita
sendiri yang membelenggunya sehingga terasa sulit dan berat.
Jalankan hidup sebagaimana hidup memerlukan kita dan kita memerlukan
hidup. Jangan dibuat-buat dan jangan dipikirkan terus-menerus hingga
yang perlu dilakukan malah tidak dilakukan. Ingat juga untuk selalu
melihat masa depan yang jauh lebih baik daripada kegagalan-kegagalan
di masa lampau.

Ketiga, berani menjadi orang berbeda dalam segala hal. Mungkin tidak
banyak orang yang tahu kalau saya (penulis artikel ini) sejak tahun
1990an sudah yakin akan kekuatan Internet sebagai sarana distribusi
pendidikan. Sebagai seorang otodidak yang sangat percaya akan
kekuatan belajar sendiri, termasuk dengan cara distance learning,
Internet is a dream come true for me.

Maka, begitu ada kesempatan, hijrah lah saya ke Silicon Valley yang
nota bene adalah pusat bisnis Internet di dunia untuk memulai
institusi pendidikan online. Beberapa tahun yang lalu, 90% orang-
orang dekat saya mencibirkan bibirnya karena dalam pikiran mereka
betapa impossiblenya hal tersebut. Juga, karena online distance
learning sangat kedengaran "mustahil" di kepala mereka, mereka
menganggap ini adalah hal yang riskan untuk dijalankan.

Namun, dengan kegigihan membuat jalan sendiri lah, maka saya berani
bergerak dengan "semangat bak orang gila" saja.

Kita bisa lihat melalui sejarah betapa orang-orang yang memberi
sumbangsih kepada dunia kebanyakan adalah orang-orang "setengah
gila." Maka, janganlah Anda runtuh hanya karena 90% orang-orang yang
Anda kenal mencibirkan bibirnya dengan jalan yang Anda buat sendiri.

"Menjadi orang setengah gila" adalah suatu privilege (kehormatan),
maka perlu diperjuangkan terus. Edison, Einstein, Bill Gates dan Sam
Walton mungkin adalah orang-orang yang dianggap "setengah gila" di
zamannya. Namun hari ini mereka adalah pahlawan peradaban manusia
masa kini. Tanpa mereka, dunia ini akan menjadi begitu monoton dan
sepi (juga gelap gulita tanpa lampu pijar).

Bayangkan kalau mereka "menyerah" saat itu, seperti apa sekarang?
Mungkin saya dan Anda tidak akan menjadi seperti mereka dalam
skalanya, namun dalam hati saya percaya bahwa betapa miniskulnya pun
sumbangsih saya bagi peradaban dunia, I'm making the world a bit
brighter and a bit better. One breath at a time.

Terserah para skeptis mau bilang apa. Saya ini bangga jadi "orang
setengah gila." Beranikan Anda?

Salam dari San Francisco Bay Area!

Sumber: Mencari Jalan vs. Membuat Jalan Sendiri oleh Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev adalah penerbit independen, penulis, edukator dan
konsultan berbasis di Kalifornia Utara. Baca tentang riwayat hidup,
blog dan prestasinya di JennieSBev.com.

Kecantikan Seorang Wanita

"Beauty can't amuse you, but brainwork – reading, writing, thinking –
can. – Kecantikan tidak akan membuat Anda senang, tetapi kepintaran –
dengan cara banyak membaca, menulis, dan berpikir – bisa membuat Anda
senang."
Helen Gurley Brown

Artinya, kecantikan wanita itu bukan hanya diliat dari segi fisik.
Kecantikan juga meliputi wawasan ilmu pengetahuan. Membaca, melatih
diri menganalisa sesuatu dan berpikir sangat efektif meningkatkan
kepintaran.

Pada tanggal 26 September 2005 saya berkesempatan menjadi juri dalam
sebuah ajang pemilihan ratu kecantikan bernama Miss Chinese Cosmo
Pageant 2005. Ajang serupa sebenarnya sudah 3 kali diselenggarakan di
Beijing-Cina, tetapi baru pertama kali diadakan di Denpasar –
Indonesia. Dari sekian banyak calon peserta, hanya 15 wanita saja
yang lolos dan dikarantina selama satu minggu sebelum mengikuti ajang
pemilihan ratu kecantikan tersebut.

Sebagai trainer sekaligus dewan juri, saya tidak sekedar memberikan
poin lebih kepada mereka berdasarkan kecantikan dari segi fisik
semata. Keahlian masing-masing peserta, termasuk kemampuan dalam
menjawab pertanyaan secara spontan, sangat berpengaruh terhadap
penilaian para juri. Saya kira, peserta yang sudah terbiasa membaca,
menulis, dan berpikir sangat berpeluang memenangkan kontes tersebut.

Tetapi standar kecantikan dalam kontes pun pasti jauh berbeda dengan
standar kecantikan kehidupan kita sehari-hari. Karena pada dasarnya
kecantikan itu suatu konsep dengan multi difinisi. Saya sendiri
mempunyai kriteria khusus dalam menilai kecantikan seorang wanita,
dan mungkin itu akan berbeda dengan pendapat orang lain.

Di mata saya, setiap wanita itu cantik, dan masing-masing wanita
memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh wanita lain.
Setiap wanita memiliki kecantikan yang berasal dari hati dan jiwa dan
bersifat permanen. Kecantikan seperti itu sering disebut dengan inner
beauty atau keluhuran budi pekerti.

Seluruh dunia mengakui kecantikan Theresia dari Calcuta – India.
Meskipun dari segi fisik, wanita tersebut renta, keriput, dan jauh
dari standar wanita seksi. Tetapi setiap tindak tanduknya dihiasi
dengan budi pekerti yang sangat luhur dan pancaran kasih sayang yang
tulus dari dalam hati. Hal itu menjadikan sosok Theresia memiliki
kecantikan yang menawan. Meskipun sudah cukup lama meninggal dunia,
tetapi kecantikannya tidak pernah lekang oleh waktu.

Saya sengaja mengambil contoh Theresia dari Calcuta – India, karena
saya ingin memaparkan bahwa kecantikan wanita itu jauh dari
penampilan atau figurnya. Kecantikan seseorang merupakan paduan dari
banyak sekali karakteristik yang indah, misalnya sikap, etika, sopan
santun, kemandirian, kecerdasan, ketangkasan, humor, kemampuan
bersosialisasi, kepekaan dan kasih sayang, religius, kemurahan hati
dan lain sebagainya. Leonardo da Vinci menyebutkan, "Beauty adorns
virtue. – Kecantikan memuja kebaikan." Artinya siapapun memiliki
kecantikan yang luar biasa apabila bersedia mempercantik hati atau
jiwanya. Namun bila masih ada wanita yang merasa jelek, mungkin ia
harus memperhatikan beberapa hal penting di bawah ini.

Yang pertama adalah meredam amarah atau keinginan untuk menyakiti
orang lain, karena hal itu akan mengurangi aura kecantikan. Lagipula
dalam ilmu kedokteran disebutkan bahwa amarah menyebabkan kerusakan
sel syaraf sebanyak 50.000 sel. Dibutuhkan waktu lama atau sedikitnya
128 hari untuk memulihkan sel-sel tersebut seperti sedia kala.

Tidak mengherankan, betapun cantik dan menarik fisik seorang wanita,
maka ia akan terlihat sangat jelek dan menyebalkan bila dirinya
dikuasai amarah atau nafsu untuk menyakiti orang lain. Maka binalah
sikap dan cara berpikir positif. Aura kecantikan Anda semakin
bersinar terang dan diri Anda terlihat jauh lebih muda dan segar bila
Anda selalu berpikir positif.

Yang kedua adalah mencintai diri sendiri tanpa syarat, apapun adanya
diri Anda. Apabila Anda tidak mampu mencintai diri sendiri, maka
Andapun tidak akan dapat mencintai dan menyayangi orang lain.
Logikanya Anda tidak akan dapat memberikan sesuatu yang tidak Anda
miliki.

Dengan terlebih dulu mencintai diri sendiri, maka Anda baru akan bisa
memancarkan cinta dan kasih sayang kepada mahkluk di sekeliling Anda.
Cinta dan kasih sayang yang tulus dari dalam hati menjadikan seluruh
aspek di dalam diri Anda terlihat istimewa. Cinta dan kasih sayang
akan memancarkan aura kecantikan Anda yang luar biasa.

Selain mencintai diri sendiri apa adanya, Anda juga dapat memupuk
cinta dan kasih sayang kepada orang lain dengan melakukan
visualisasi. Caranya adalah meluangkan beberapa waktu untuk
membayangkan diri Anda berbagi kasih sayang dan berbuat kebaikan
kepada orang lain. Lakukan visualisasi seperti itu dimanapun Anda
berada, karena dapat meningkatkan energi cinta dan kasih sayang dari
dalam diri Anda.

Hingga tanpa Anda sadari, suatu ketika sikap Anda juga akan penuh
kasih sayang. Aura kecantikan Andapun akan memancar dengan
sendirinya. Semakin banyak cinta yang Anda pancarkan tanpa syarat,
maka semakin tinggi aura kecantikan yang Anda miliki.

Satu hal terpenting untuk diperhatikan bahwa kecantikan itu terpancar
dari dalam hati yang damai. Aura kecantikan tidak dapat timbul dari
dalam jiwa yang kosong dan hampa. Hati yang damai juga tidak dapat
tergantikan oleh kekayaan, kemolekan tubuh dan wajah, ketenaran,
posisi dan lain sebagainya.

Bersyukur dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa merupakan
aktifitas yang lebih menjanjikan kedamaian hati. Luangkanlah lebih
banyak waktu untuk bersyukur dan beribadah kepada Tuhan YME. Aura
kecantikan akan terpancar lebih terang dari seseorang yang memiliki
kedamaian spiritual, dimana ia menemukan harapan baru, optimisme dan
kebahagiaan hakiki.

Pada dasarnya, penampilan memang penting supaya seorang wanita
terlihat rapi, cantik dan menarik. Tetapi karakteristik itu ternyata
jauh lebih penting, karena kecantikan yang berasal dari kemurnian
hati dan jiwa lebih mudah menjadi pusat kekaguman banyak orang. Pesan
saya, jagalah diri dan inner beauty atau keluhuran budi pekerti
betapapun cantiknya Anda.

Sumber: Kecantikan Seorang Wanita oleh Andrew Ho. Andrew Ho adalah
seorang pengusaha, motivator, trainer, dan penulis buku best seller.

Sandal

Hari ini Wenny malu sekali. Rasanya ingin menghilang masuk ke Bumi atau menyelam ke lautan yang dalam dan tidak muncul-muncul lagi.
Masalahnya sih, sebenarnya tidak terlalu besar. Tapi, malunya itu.
Benar-benar malu!

Kejadian hari ini sebenarnya dimulai dari kebiasaan Wenny di kantor.
Wenny sudah bekerja di kantor itu selama hampir enam tahun sebagai sekretaris. Tanpa sadar, kantor sudah menjadi bagaikan rumah kedua baginya. Wenny membawa bantalan kursi untuk pengganjal punggung sewaktu merasa pegal. Kadang-kadang dipakai juga sebagai alas duduk atau sekedar dipeluk. Bahkan kadang-kadang kalau mengantuk sekali, dia juga meletakkan kepalanya di situ. Tentu saja jangan sampai ketahuan atasan. Bisa gawat nanti.

Di bawah meja kerjanya selalu ada sepasang sandal jepit dan sepasang sandal yang lebih bagus dengan hak setinggi lima centimeter. Dia tidak suka seharian mengenakan sepatu. Jadi setiap kali duduk, Wenny melepaskan sepatunya dan mengenakan sandal jepit. Kalau hanya berdiri sebentar untuk mengambil kertas dari lemari dekat mejanya, Wenny tetap mengenakan sandal jepitnya. Kan dekat? Kalau dipanggil atasan atau ke ruangan lain, ya pakai sepatu lagi. Sandal jepit itu tidak pernah dibawa pulang. Memang buat di kantor sih. Karyawan lain juga begitu kok.

Sandal yang lebih bagus, dengan hak setinggi lima centimeter itu, hanya dipakai pada waktu ke toilet atau pada waktu mau pulang. Buat apa pakai sepatu? Lebih enak pakai sandal. Praktis. Begitulah pikir Wenny. Jadilah sepatunya tidak pernah meninggalkan kantor hingga Jumat sore. Jumat sore, sepatunya dibawa pulang dalam kantong plastik. Hanya untuk berjaga-jaga kalau-kalau dia perlu pakai sepatu di akhir minggu. Senin, sepatunya dibawa kembali ke kantor dengan menggunakan kantong plastik. Sepatunya akan kembali ditinggalkan di kantor hingga Jumat sore berikutnya.

Tanpa disangka-sangka, pagi ini datanglah tiga orang tamu atasannya.
Mereka seharusnya tiba pukul 11.00, tapi entah mengapa mereka sudah tiba di kantor pukul sembilan pagi. Yang satu orang Jepang, sedangkan yang dua lagi orang Kanada. Mereka diizinkan langsung masuk karena memang sudah ada janji. Wenny sedang duduk di mejanya dan tentu saja sedang memakai sandal jepit.

Tiba-tiba, ketiga orang tamunya sudah berdiri di hadapannya dan menanyakan atasannya. Pada saat mau berdiri, kaki Wenny otomatis melepas sandal jepitnya dan mencari sepatunya. Tapi sepatu kanannya tidak ketemu. Nah loh! Kaki kanannya meraba-raba lantai di bawah mejanya, sambil mencoba mengulur waktu dengan mengajak tamunya tersenyum dan menanyakan kabar mereka. Tiba-tiba tamu yang dari Kanada tersenyum-senyum sambil matanya memandang ke bawah. Wenny terkejut. Ternyata tanpa disadarinya ujung kakinya terjulur terlalu jauh sehingga muncul dari bawah meja dekat tamunya berdiri. Tamu itu tersenyum melihat ujung kaki sedang meraba-raba mencari sesuatu. Aduh celaka!

Lebih celaka lagi, ternyata sepatunya tanpa sengaja terdorong oleh kakinya hingga keluar dari bawah meja dan berada di luar jangkauan kaki kanannya. Mau tidak mau Wenny harus keluar dari balik mejanya untuk mengambil sepatunya. Sambil senyum-senyum kedua orang Kanada itu memandang kearah lain, pura-pura tidak tahu. Tapi tamu yang dari Jepang tidak tahu masalah sepatu itu dan sempat heran melihatnya berjalan terpincang-pincang keluar dari balik mejanya. Setelah melihat Wenny mengambil sepatu, barulah tamu dari Jepang itu mengerti permasalahannya dan tersenyum penuh pengertian. Aduuh malunya!

Seakan-akan seluruh gedung runtuh di hadapannya! Dengan perasaan tidak menentu, Wenny mengantar mereka ke ruang rapat lalu cepat-cepat meninggalkan mereka di sana. Setelah memberitahu atasannya, Wenny baru sadar dia belum menanyakan mereka ingin minum apa. Terpaksa dia kembali ke ruang rapat dan menemui tamunya lagi.

Setelah kejadian itu, baru Wenny ingat atasannya sering menyuruhnya tidak melepas sepatu. Beliau pernah mengatakan hal itu akan menjadi kebiasaan dan Wenny tidak pernah tahu kapan dia perlu memakai sepatu, sehingga lebih baik selalu memakai sepatu setiap saat.

Mengingat kata-kata atasannya, barulah Wenny menyesal. Mengapa dia tidak percaya? Mengapa dia tidak menuruti nasehat beliau? Mengapa dia menganggap remeh? Kalau dari dulu dia disiplin terhadap dirinya sendiri dan selalu mengenakan sepatu, bukankah kini dia sudah terbiasa selalu mengenakan sepatu di mana pun? Bukankah sebenarnya dia tidak perlu sandal jepit? Wenny baru sadar selama ini dia hanya malas saja. Malas memakai sepatu. Dia hanya memanjakan dirinya sendiri. Tidak mau mendisiplinkan dirinya sendiri.

Setelah kejadian pagi ini, Wenny berniat akan mulai melatih dirinya untuk selalu memakai sepatu. Memang masalah kecil sih. Tapi apa ruginya kalau dia bisa meningkatkan penampilannya menjadi lebih baik?
Kedua pasang sandalnya akan dibawanya pulang. Dia hanya akan memakai sepatu di kantor. Lebih malunya lagi, ketika ketiga tamunya pulang dan melewati mejanya, mata mereka melirik bagian bawah mejanya.
Aduuh! Harusnya tidak perlu sampai begini. Be better! Be more professional!

Sumber: Potensi Diri - Sandal oleh Lisa Nuryanti, Director Expands Consulting & Training Specialist

Saat Berada di Puncak Kesuksesan

Pada zaman kerajaan-kerajaan di Cina, sejarah kekuasaan sering
diwarnai dengan kekejaman demi kekejaman. Ini juga tidak jauh berbeda
dengan sejarah kerajaan di Nusantara yang dipenuhi konflik dan intrik
antar pemegang kekuasaan. Kemenangan dan kekuasaan sering dipakai
untuk melampiaskan dendam yang begitu keji. Dan sudah pasti, membalas
dendam selalu berarti menciptakan dendam-dendam baru yang tak
berkesudahan.

Untuk kesekian kalinya, kita harus ingat bahwa kekerasan akan
melahirkan kekerasan baru. Pelampiasan dendam akan memunculkan dendam
baru yang tak kalah keji.

Mungkin sudah menjadi sifat manusia yang gampang sekali mabuk
kekuasaan. Mengalahkan atau menaklukkan musuh dianggap sebagai pintu
untuk berbuat apa saja, sekehendak hati dan tanpa mengenal batas.
Sekalipun perbuatan tersebut telah melanggar batas-batas moral dan
perikemanusiaan. Titah penguasa di puncak kekuasaan tak bisa dibantah
oleh siapa pun, sekalipun bantahan itu mengandung kebenaran. Kita,
seharusnya bisa mengambil hikmah dari sejarah kelam masa silam ini.

Dalam kehidupan nyata kita dapati yang namanya kesuksesan, nama
besar, popularitas, atau kekayaan. Melalui perjuangan yang gigih,
siapa pun bisa meraih hal-hal yang sangat menggoda itu. Tetapi harus
diingat, sama seperti sifat kekuasaan, maka kesuksesan, nama besar,
popularitas, maupun kekayaan itu sifatnya seperti pedang bermata dua.
Bisa membawa kebaikan, tetapi bisa pula membawa petaka bagi mereka
yang memilikinya. Semua itu tergantung pada kualitas mental orang
tersebut.

Kita ambil contoh saat Myke Tyson berada di puncak kejayaannya.
Sayang sekali, kesuksesan yang diraihnya dengan pengorbanan yang
besar, tidak diimbangi dengan kualitas mental. Yaitu mental kaya yang
semestinya dimiliki oleh olahragawan besar sepertinya. Akhirnya, Myke
Tyson terperosok dalam kasus-kasus yang menyulitkan hidupnya,
sekaligus memudarkan nama besar yang pernah digenggamnya.

Ini berbeda sekali misalnya dengan Michael Jordan. Nama besar dan
kesuksesannya makin berkilau berkat kualitas mental yang sehat dan
mengagumkan. Prestasi dan prinsip-prinsip hidup yang dianutnya
menjadikannya sebagai olahragawan besar yang diteladani. Menjadi
sumber motivasi dan inspirasi banyak orang terutama generasi muda.

Sukses, nama besar, dan kekuasaan politik disikapi secara berbeda
menurut kualitas mental yang dimiliki seseorang. Bagi mereka yang
bermental miskin, kekuasaan, sukses, dan nama besar bisa membuatnya
lupa diri, sombong, paranoid, atau penyakit-penyakit mental lainnya.
Tetapi bagi mereka yang bermental kaya, kekuasaan, sukses, dan nama
besar disikapi sebagai sesuatu yang tidak abadi. Sebab itu, mereka
menggunakannya untuk menciptakan lebih banyak kebaikan, yang
mendatangkan inspirasi dan motivasi bagi orang lain, untuk melakukan
hal yang sama.

Sumber: Saat Berada di Puncak Kesuksesan oleh Andrie Wongso

Sukses adalah Pilihan Hidup

"Kebebasan berarti memilih beban Anda." Eudora Welty

Suatu hari anak saya memilih beberapa jenis permainan puzzle, semacam permainan menggabung-gabungkan potongan-potongan gambar.
Anak saya kemudian memilih jenis puzzle yang terdiri dari 1.000 keping potongan gambar. Setelah menentukan pilihan, mulailah ia melaksanakan langkah-langkah menyusun keping demi keping puzzle.

Rupanya ia mempunyai strategi menyusun kepingan-kepingan gambar itu.
Mula-mula ia membuat kerangka gambar. Kemudian ia mengelompokkan kepingan-kepingan itu berdasarkan warnanya. setelah itu barulah ia menyusun atau meletakkan kepingan-kepingan tersebut pada tempat yang semestinya.

Semakin banyak kepingan permainan itu, maka akan semakin sulit dikerjakan. Sebenarnya ia bisa saja memilih jenis permainan puzzle yang terdiri dari 5 keping, 6, keping dan seterusnya. Tetapi anak saya sengaja memilih permainan yang terdiri dari ribuan keping. Ia beralasan bahwa semakin sulit permainan akan menghasilkan gambar yang lebih berwarna, bernuansa indah, dan lain sebagainya.

Selain memperhatikan anak saya bekerja menyusun potongan gambar itu, saya juga sibuk berpikir. Jika tanggung jawab hidup semakin besar, mungkin kehidupan ini terasa lebih berat. Namun bila tanggung jawab tersebut dapat diselesaikan dengan baik, maka kehidupan inipun akan terasa lebih berarti, menyenangkan, berwarna dan nikmat.

Hakekat pencapaian kesuksesanpun tidak berbeda. Sama seperti yang dikatakan oleh Dwight D. Eisenhower. "The history of free men is never written by chance but by choice, their choice. – Sejarah seorang manusia merdeka tidak pernah tercipta secara kebetulan, melainkan tercipta karena pilihan mereka sendiri," katanya. Hakekat kesuksesan adalah pilihan kita sendiri.

Terserah diri kita, akan memilih tanggung jawab hidup yang lebih besar ataukah sedikit? Jika mengambil tanggung jawab yang besar, maka kehidupan akan terasa lebih sulit tetapi mendapatkan nilai hidup yang lebih besar. Apakah kita ingin mendapatkan kehidupan yang sukses dan berharga? Jika Anda benar-benar menginginkannya, ada empat tanggung jawab yang paling mendasar dan menjamin keberhasilan Anda.

Tanggung jawab yang pertama adalah bersikap jujur. Orang-orang yang tulus dan jujur sangat mudah meraih kesuksesan bagi dirinya sendiri sekaligus orang lain. Mengapa demikian? Karena sikap jujur menjadikan kita mudah dipercaya orang lain. Selain itu, kita juga akan semakin percaya diri berusaha mencapai sukses di masa depan.
Sebuah pepatah bijak mengatakan, "Confidence is the companion of success. – Percaya diri merupakan pasangan dari kesuksesan."

Tanggung jawab selanjutnya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih sukses dan bermakna adalah kemauan untuk berbagi dengan orang lain.
Sadari satu prinsip bahwa `you reap what you sow' – Anda akan memanen apa yang Anda tanam. Jika Anda memilih untuk hidup lebih sukses, maka jangan pernah membiarkan diri Anda pelit untuk berbagi dengan sesama.

"False happiness renders men stern and proud, and that happiness is never communicated. True happiness renders kind and sensible, and that happiness is always shared. – Kebahagiaan semu cenderung menjadikan seseorang kejam dan sombong, dan kebahagiaan seperti itu tidak akan pernah berarti. Kebahagiaan yang sesungguhnya menjadikan seseorang baik hati dan peka, dan kebahagiaan seperti itu yang akan sangat berharga dan bermakna tidak saja untuk diri sendiri," kata Charles de Montesquieu.

Jika Anda berkeras untuk memilih kehidupan yang lebih sukses, maka tanggung jawab yang harus Anda laksanakan berikutnya adalah giat bekerja. Sejarah lebih banyak membeberkan fakta bahwa upaya yang bersungguh-sungguh selalu mewarnai dinamika kehidupan mayoritas orang-orang sukses di dunia ini. Bila Anda berkomitmen untuk bekerja keras berarti Anda sudah memastikan pada pilihan kehidupan yang lebih sukses.

Giat dalam arti mengerjakan pekerjaan yang benar, bukan pekerjaan yang kita sukai. Socrates mengatakan bahwa sesuatu yang sangat berharga bukan hal yang hanya bisa kita gunakan untuk hidup, melainkan untuk hidup dengan benar. "What most counts is not to live, but to live aright," katanya. Bila Anda memilih untuk melakukan hal-hal yang benar, berarti Anda sudah memilih kehidupan yang sukses dan penuh integritas.

Sukses atau gagal adalah hasil dari apa yang kita pilih. "Events, circumstances, etc., have their origin in ourselves. They spring from seeds which we have sown. – Setiap kejadian, keadaan yang sedang kita alami, dan lain sebaginya…, kembali kepada diri kita sendiri. Semua itu berasal dari benih yang sudah kita tanam," kata Henry David Thoreau. Apakah Anda memilih untuk hidup sukses, bahagia, dan bermakna dengan melaksanakan tanggung jawab seperti yang diuraikan diatas, ataukah sebaliknya? Semua pilihan ada di tangan Anda sendiri.

Sumber: Sukses adalah Pilihan Hidup oleh Andrew Ho. Andrew Ho adalah penulis buku-buku best seller, seorang motivator, dan pengusaha.