Sebagai seorang constructivist (salah satu aliran dalam ilmu
pembelajaran –Learning Theory), saya tidak percaya kepada "mencari
jalan." Sebaliknya, saya mengkonstruksi jalan hidup sendiri. Mungkin
Anda pun adalah seorang constructivist, namun selama ini "termakan"
mitos bahwa Anda perlu "mencari" jalan.
Mari kita telaah satu per satu beda "mencari" jalan dengan "membuat"
alias mengkonstruksi jalan sendiri. Kata "mencari" sendiri mempunyai
konotasi bahwa sesuatu yang dicari itu sebenarnya sudah ada, namun
karena satu dan lain hal, Anda "kehilangan" nya atau "belum
menyadari" keberadaannya, jadinya perlu "dicari."
Sedangkan, "membuat" jalan sendiri sudah jelas bahwa jalan itu belum
ada namun Anda konstruksikan sendiri dengan pasir, semen, aspal dan
bahan apa saja yang Anda miliki dengan tujuan dapat menggunakan
jalan tersebut untuk mengangkat diri Anda ke atas (apapun tujuan
itu). Mengkonstruksikan jalan hidup sendiri tidak lebih sulit
daripada "mencari" saja.
Kuncinya mudah saja. Ingatlah bahwa semua itu mudah saja. Jangan
sekali-kali Anda mempersulit keadaan dengan perasaan "betapa
sulitnya."
Banyak orang pandai dan super pandai yang saya kenal namun tidak
mencapai apa-apa di dalam hidup karena mempunyai perasaan "betapa
sulitnya" ini dan itu. Bagi saya pribadi, segalanya gampang. Intinya
jika ada hal-hal yang bagi saya "sulit," alias bakal membawa
kesulitan dalam mengkonstruksikan jalan hidup saya, maka saya akan
pecahkan dulu "sulit" ini sehingga ini menjadi "mudah."
Contohnya, ada beberapa teman yang merasa terbentur dalam karirnya
karena tidak punya gelar Master, misalnya. Yah, kuncinya ambillah
gelar itu. Walaupun "tidak ada waktu," yang nota bene adalah
perasaan saja, jangan sungkan untuk jalan terus. Jangan ragu
sedikitpun bahwa waktu akan terus berserta kita. Kalau sudah
dijalankan, pasti ada waktu.
Ada lagi yang merasa tidak cukup waktu untuk berolah raga. Waktunya
habis untuk bekerja 10 sampai 14 jam sehari, macet di jalan 2 jam
dan sisa waktu hanya tinggal 8 sampai 10 jam sehari yang habis untuk
nonton TV, bincang-bincang dengan keluarga dan tidur. Sebenarnya,
cukup 20 sampai 40 menit sehari "berolah raga" yang mengeluarkan
keringat untuk memacu detak jantung dan membakar lemak.
Kegiatan ini bisa dilakukan sambil menonton TV dan berbincang-
bincang juga dengan keluarga. Caranya ya mudah saja, jogging di
tempat, mengendarai sepeda statis atau treadmill di depan TV sudah
cukup. Tidak perlulah membuang 1 sampai 3 jam di jalan dan di
fitness center. Kuncinya bukan hanya niat, namun mengeksekusikan
niat itu dengan kesadaran penuh bahwa kesehatan adalah segalanya
dalam hidup ini. Tanpa kesehatan, tidak ada umur panjang, tanpa umur
panjang apapun yang Anda lakukan saat ini tidak bisa dinikmati oleh
keluarga, anak dan cucu di masa depan. Tentu saja, tidak semua orang
dikaruniai umur panjang karena ada banyak faktor yang
mempengaruhinya.
Namun, if you do your best to take care of your health, faktor-
faktor lain adalah uncontrollable yang tidak perlu dirisaukan. Apa
yang bisa Anda kontrol, seperti berapa banyak Anda makan dan waktu
berolah raga-lah yang perlu diperhatikan dan dirisaukan. Hal-hal
lain tak perlu dipikirkan hanya perlu didoakan saja.
"Tidak ada waktu" sekali lagi, hanya suatu ilusi belaka. Dengan good
time management, selama di perjalanan bermacet-macet ria pun bisa
digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang perlu dipikirkan secara
mental. Jika ada sopir, malah Anda bisa mengerjakan hal-hal
administratif dengan laptop atau membaca literatur-literatur yang
membantu pekerjaan atau kuliah Anda.
Membuat jalan sendiri juga berarti tidak mudah putus asa
ketika "kegagalan" yang ada di benak Anda menghantui diri Anda
demikian mendalam sehingga tidak berani bergerak. Beberapa tips
untuk melepaskan diri dari belenggu "mencari jalan" sehingga Anda
bisa leluasa "membuat jalan sendiri."
Pertama, semua kegagalan Anda terjadi di masa lalu. Masa depan Anda
adalah sukses, maka tinggalkan segala macam bentuk ketakutan akan
kegagalan, toh itu hanya di masa lalu bukan?
Kedua, semua itu gampang. Americans bilang, "that's a piece of
cake." Tidak ada yang sulit dalam hidup ini. Hanya pikiran kita
sendiri yang membelenggunya sehingga terasa sulit dan berat.
Jalankan hidup sebagaimana hidup memerlukan kita dan kita memerlukan
hidup. Jangan dibuat-buat dan jangan dipikirkan terus-menerus hingga
yang perlu dilakukan malah tidak dilakukan. Ingat juga untuk selalu
melihat masa depan yang jauh lebih baik daripada kegagalan-kegagalan
di masa lampau.
Ketiga, berani menjadi orang berbeda dalam segala hal. Mungkin tidak
banyak orang yang tahu kalau saya (penulis artikel ini) sejak tahun
1990an sudah yakin akan kekuatan Internet sebagai sarana distribusi
pendidikan. Sebagai seorang otodidak yang sangat percaya akan
kekuatan belajar sendiri, termasuk dengan cara distance learning,
Internet is a dream come true for me.
Maka, begitu ada kesempatan, hijrah lah saya ke Silicon Valley yang
nota bene adalah pusat bisnis Internet di dunia untuk memulai
institusi pendidikan online. Beberapa tahun yang lalu, 90% orang-
orang dekat saya mencibirkan bibirnya karena dalam pikiran mereka
betapa impossiblenya hal tersebut. Juga, karena online distance
learning sangat kedengaran "mustahil" di kepala mereka, mereka
menganggap ini adalah hal yang riskan untuk dijalankan.
Namun, dengan kegigihan membuat jalan sendiri lah, maka saya berani
bergerak dengan "semangat bak orang gila" saja.
Kita bisa lihat melalui sejarah betapa orang-orang yang memberi
sumbangsih kepada dunia kebanyakan adalah orang-orang "setengah
gila." Maka, janganlah Anda runtuh hanya karena 90% orang-orang yang
Anda kenal mencibirkan bibirnya dengan jalan yang Anda buat sendiri.
"Menjadi orang setengah gila" adalah suatu privilege (kehormatan),
maka perlu diperjuangkan terus. Edison, Einstein, Bill Gates dan Sam
Walton mungkin adalah orang-orang yang dianggap "setengah gila" di
zamannya. Namun hari ini mereka adalah pahlawan peradaban manusia
masa kini. Tanpa mereka, dunia ini akan menjadi begitu monoton dan
sepi (juga gelap gulita tanpa lampu pijar).
Bayangkan kalau mereka "menyerah" saat itu, seperti apa sekarang?
Mungkin saya dan Anda tidak akan menjadi seperti mereka dalam
skalanya, namun dalam hati saya percaya bahwa betapa miniskulnya pun
sumbangsih saya bagi peradaban dunia, I'm making the world a bit
brighter and a bit better. One breath at a time.
Terserah para skeptis mau bilang apa. Saya ini bangga jadi "orang
setengah gila." Beranikan Anda?
Salam dari San Francisco Bay Area!
Sumber: Mencari Jalan vs. Membuat Jalan Sendiri oleh Jennie S. Bev.
Jennie S. Bev adalah penerbit independen, penulis, edukator dan
konsultan berbasis di Kalifornia Utara. Baca tentang riwayat hidup,
blog dan prestasinya di JennieSBev.com.